Sesungguhnya, kegiatan usaha tani sudah hampir sama tuanya dengan kehadiran manusia di muka bumi ini. Karena kegiatan usaha tani adalah cara hidup yang mula pertama dikenal oleh manusia dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Bahkan bersamaan dengan itu, kegiatan petani telah tertata ke dalam sebuah organisasi yang terintegrasi dalam sistem kehidupan kolektif, baik yang berbentuk kekerabatan maupun kesukuan. Hal ini dapat dilihat dari arti artefak-artefak kehidupan masyarakat yang berada di lembah lembah yang subur, seperti di sungai Nil, Mesir. Dalam kata lain, kehidupan petani lembah lebih modern daripada kehidupan kolektif di gua-gua maupun di daerah pesisir, meskipun pada perkembangan selanjutnya, kehidupan petani cenderung diidentikkan dengan label tradisional (dalam artian terbelakang, bukan terikat pada kebiasaan/tradisi), subsisten dan cenderung berada dalam status objek (bukan subjek) kehidupan modern.
Namun, dalam konteks ini saya tidak membicarakan tentang model tipe organisasi yang diorientasikan untuk kegiatan rutin usaha tani, melainkan tentang model organisasi yang diorientasikan untuk memperjuangkan kepentingan politik petani. Persoalannya, dalam organisasi yang bagaimanakah upaya-upaya untuk memperjuangkan kepentingan politik petani dilakukan dalam rentang sejarah bangsa?
Pra Kemerdekaan
Studi-studi gerakan protes petani, sebagaimana yang dilakukan oleh Sartono Kartodirdjo dan Kuntowijoyo yang menyebut diantaranya menunjukkan tipe Imam Mahdi atau Ratu Adil. Gerakan petani Banten 1988 merupakan organisasi yang dipimpin oleh ulama tasawuf yang kharismatik. Petani diikat menjadi sebuah kesatuan juang berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan yang bercorak tasawuf, dimana jenjang keorganisasian yang mengikuti hierarki yang berlaku dalam tasawuf, dan hubungan antara pemimpin dan pengikut sebagaimana hubungan antara guru dan murid dalam tasawuf, dan sebagainya.
Prinsip pengorganisasian yang demikian memiliki sejumlah keuntungan. Pertama, keluasan jaringan gerakan petani mengikuti sebaran aliran tasawuf tersebut. Kedua, tingkat kepatuhan petani kepada pemimpin sangat tinggi. Ketiga, pemimpin gerakan adalah pribadi yang semakmum mungkin. Dan para anggotanya, yakni petani, menjadi pribadi yang siap menjadi martir. Karakter organisasi yang demikian menjadi sangat bergantung kepada nilai-nilai tasawuf aliran itu pola pikir dan daya tahan kedua pemimpinnya. Sebab, tidak semua aliran tasawuf memiliki tatanan nilai ( etika ) yang bisa mendorong pengikutnya, memiliki spirit protes. Bahkan ada aliran tasawuf yang mendorong pemeluknya untuk memiliki sifat apatis terhadap segala realitas sosial (misalnya, aliran yang hanya berkonsentrasi untuk pengobatan) dan sikap akomodasionis terhadap penguasa yang kebijakannya merugikan pemeluknya (misalnya, aliran tasawuf yang mendukung golongan politik tertentu yang sedang berkuasa). Bila pemimpin nya cukup konsisten maka daya tahan gerakan bisa menjadi cukup panjang. Tetapi bila pemimpin yang mudah patah (takluk, atau meninggal) maka gerakan hanya bersifat sporadis dan segera padam. Dalam era ini gerakan petani merupakan bagian dari gerakan keagamaan.
Pada fase selanjutnya, petani menjadi bagian dari gerakan dengan tipe organisasi yang lebih modern yakni bagian dari Serikat Islam atau (SI) sekitar awal abad 20 ini. Dikatakan modern karena organisasi ini itu sudah memiliki struktur dan anggaran dasar organisasi namun demikian sebagai sebuah gerakan, organisasi seperti SI juga bertipe Ratu Adil sebagaimana yang ditulis oleh Korver. Dimana orientasi gerakan atau perumus cita-citanya adalah para tokoh yang memiliki kharisma dan diperparah oleh sejumlah kisah-kisah luar biasa berkenaan dengan pribadi pemimpinnya.
persentuhan SI dengan petani karena SI memiliki cita-cita dengan agama, ekonomi dan harga diri kaum bumi putera. Di mana sebagian besar petani adalah Islam, berekonomi lemah dan berstatus pribumi. Jadi, sekalipun organisasi itu didirikan oleh kaum pedagang, dengan tanpa fokus pada petani, tetapi cita-citanya cukup aspiratif bagi kaum tani. Hal ini menarik kesertaan petani dalam SI lebih dikarenakan status sosial dan keagamaan serta nasibnya sebagai bumi putera yang lemah.
Masa 1945-1965
Bagaimana dinamika gerakan petani dalam masa 1945 hingga 1965 dapat kita saksikan dari periodisasi yang dilakukan oleh Kuntowijoyo. Disini terlihat sikap petani dari saat ke saat berubah dengan tajam. Bila awalnya bersikap anti imperialis maka sikap itu berubah sesuai dengan tantangan pada kurun itu, misalnya bisa beralih ke tantangan lokal, yakni masalah feodalisme. Perubahan pada sikap itu juga berimplikasi pada reposisi dalam hal taktik, tujuan dan sasaran gerakan tani.
Perkembangan Radikalisasi Petani 1950-1965
Radikalisasi ini berkenaan dengan watak paradigma analisis sosial yang dominan digunakan oleh organisasi tersebut yang sesuai dengan tumbuhnya lapisan sosial tani baru, yakni buruh tani. Bahkan radikalisasi itu juga berhubungan dengan paradigma pemikiran para elite perjuangan, seperti menonjolnya analisis marxian dan sosialis persilangannya dengan pemikiran keagamaan. Analisis yang dominan digunakan untuk konteks pedesaan pada saat itu, sebagaimana kata Kuntowijoyo, adalah (1) analisis Marxian, dan (2) analisis dikotomi budaya santri dan abangan untuk konteks Jawa, tentunya. Komuni di pedesaan dapat dibaca telah terpolarisasi ke dalam kelas tuan tanah dan kelas petani penggarap dan antara kelompok santri dan abangan.
Fenomena yang menonjol dalam kaitannya dengan petani adalah kehadiran organisasi Barisan Tani Indonesia (BTI) pada awal Desember 1945. Hal menarik, menurut Soe Hok Gie, BTI didirikan oleh elite politik sosialis Indonesia, yakni grup Syahrir. Agenda awal BTI karena elitenya tidak menguasai masalah-masalah pertanahan, adalah masalah industrialisasi pertanian. Sebenarnya sebuah isu yang lebih kondusif dikritisi pada masa Orde Baru, yang dikenal dengan kebijakan Revolusi Hijau.
Begitulah, bagi generasi sekarang BTI lebih dikenal sebagai bagian dari aliansi strategis PKI. Di mana organisasi petani hanya merupakan salah satu dari gurita organisasi PKI. elite politik pada saat itu hanya berkepentingan untuk memanfaatkan isu pertanian yang sekaligus merupakan sumber massa yang dominan untuk meraih kekuasaan. Kegagalan PKI, apakah karena dikudeta oleh sekelompok elite militer, dalam waktu 1965 sehingga ia menjadi tertuduh menjadikan organisasi ini hancur dan organisasi petaninya pun ikut terstigma (dilabel PKI) oleh provokasi elite Orde Baru.
Masa 1965-1998
Kehancuran organisasi petani yang demikian besar dan radikal itu dalam memperjuangkan kaumnya, adalah karena kecerobohan partai politik yang menjadi payungnya. Lain halnya dengan nasib petani pada masa Orde Baru. Pertama, kebijakan Soeharto menjadikan pedesaan sebagai basis massa mengambang menjadikan petani tidak terorganisir untuk memperjuangkan nasib kaumnya sendiri. Kedua, akibat stigma PKI itu, maka inovasi petani untuk mengorganisasikan kaumnya sendiri menjadi hilang. Ketiga, Soeharto juga menunggalkan organisasi menurut golongan. untuk petani diciptakan wadah HKTI. Lalu organisasi ini merupakan tangan-tangan panjang yang menjangkau desa dari “partai” politik Golongan Karya. Kebijakan-kebijakan itu, jika dilihat secara kritis, sebenarnya saling menafikan sehingga di satu pihak petani menjadi massa mengambang dan di pihak lain HKTI itu sendiri menjadi organisasi yang tidak berakar pada massa petani.
Meskipun kejatuhan Orde Baru tidak disertai oleh pelabelan organisasi seperti yang dialami oleh PKI, namun HKTI sendiri tidak berupaya mereformasi dirinya sendiri. HKTI tidak melakukan reposisi terhadap sikap dan karakter organisasi yang berorientasi ke atas. HKTI tidak berupaya untuk menjadikan sebuah organisasi organisasi massa yang radikal dalam memperjuangkan nasib stakeholder atau konstituennya yakni kaum tani.
Penutup
Kita bisa menyaksikan dari rentang sejarah singkat petani bahwa, pertama radikalisasi petani merosot tajam, bahkan hilang dalam memperjuangkan nasib kaumnya sejak masa Orde Baru. Kedua, hal tersebut ada kaitannya dengan semakin hilangnya fundasi etis (agama pada masa pra kemerdekaan) dan fundasi ideologi petani (pada masa 1945-1965). Ketiga, organisasi petani di Indonesia tidak berkembang mengikuti garis kontinum yang menunjukkan kompleksitasnya sehingga menjadi sebuah komunitas massa yang memiliki posisi tawar-menawar yang kuat dengan organisasi politik aliansi taktis. capaian yang tertinggi dari gerak dinamika organisasi petani adalah menjadi salah satu organisasi massa yang radikal tapi berada di bawah kendali organisasi politik tertentu.
Sekalipun kehidupan petani semakin merosot (menjadi buruh tani atau petani dengan pemilikan alat produksi berskala kecil), dan petani tetap menjadi masa yang dominan, tetapi mereka tidak berkembang menjadi sebuah gerakan massa yang radikal dalam memperjuangkan nasib kaumnya sendiri.
Saya kira ini ada kaitannya dengan tiadanya organisasi yang memiliki elite intelektual yang ber paradigma yang bisa menjelaskan secara gamblang tentang realitas dunia petani saat ini. Ketiadaan ini bisa berlanjut pada ketidakjelasan strategi, taktik, tujuan dan sasaran gerakan petani di Indonesia. Tampaknya ke semua faktor tersebut sudah mendesak karena ada indikasi petani mulai memiliki spirit yang kuat untuk memperjuangkan nasib kaumnya.
Yayasan Sinar Tani Indonesia