Hari Tani Nasional, Sintesa Dorong Refleksi Reforma Agraria di Tengah Perubahan Arah Pembangunan

Peringatan Hari Tani Nasional tahun 2026 menjadi momentum untuk kembali membicarakan persoalan agraria dalam kaitannya dengan arah pembangunan Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Reforma Agraria di Tengah Krisis: Membaca Arah Pembangunan dan Masa Depan Petani Indonesia” yang digelar Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Utara di Sekretariat DPW SPI Sumatera Utara, Minum Kopi Medan, Rabu (16/9). Diskusi mempertemukan petani, akademisi, mahasiswa, pemuda tani, organisasi masyarakat, dan masyarakat umum untuk membahas berbagai persoalan agraria yang berkembang seiring dengan perubahan arah pembangunan nasional.

Direktur Yayasan Sinar Tani Indonesia (Sintesa), Andry Anshari, menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tersebut bersama Edy Suhartono dari Universitas Negeri Medan dan Randa Putra K. Sinaga dari PUSKAHAP FISIP Universitas Sumatera Utara.

Tanah dalam Arah Pembangunan

Dalam diskusi, persoalan agraria dibicarakan tidak hanya sebagai persoalan kepemilikan atau konflik atas tanah, tetapi juga sebagai persoalan yang berkaitan erat dengan sumber penghidupan dan ruang hidup masyarakat. Perubahan penggunaan dan penguasaan tanah dalam beberapa tahun terakhir semakin berhubungan dengan berbagai agenda pembangunan, mulai dari ekspansi perkebunan dan pertambangan, pembangunan infrastruktur dan Proyek Strategis Nasional, pengembangan kawasan industri, hingga agenda pangan dan transisi energi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan kebijakan pembangunan dapat melahirkan persoalan agraria baru. Bagi petani dan masyarakat pedesaan, perubahan penggunaan tanah dapat berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan sumber penghidupan dan ruang hidup mereka. Karena itu, pembicaraan mengenai reforma agraria perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yaitu bagaimana kebijakan pembangunan memengaruhi struktur penguasaan tanah, kehidupan petani, serta hubungan masyarakat dengan sumber daya agraria.

Hari Tani sebagai Momentum Refleksi

Diskusi tersebut juga membahas sejumlah isu yang berkaitan dengan kondisi agraria Indonesia, di antaranya ketimpangan penguasaan tanah, konflik agraria, arah pembangunan, pangan, transisi energi, dan masa depan petani. Pertemuan antara pengalaman petani, perspektif akademisi, serta pandangan organisasi masyarakat membuka ruang dialog mengenai persoalan-persoalan tersebut secara lebih terbuka. Bagi Sintesa, ruang dialog semacam ini penting untuk terus mempertemukan pengalaman masyarakat dengan kajian dan pemikiran mengenai persoalan agraria. Hari Tani Nasional tidak semata-mata menjadi agenda seremonial, tetapi dapat menjadi momentum untuk merefleksikan kembali hubungan antara tanah, pembangunan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Pembicaraan mengenai reforma agraria juga perlu melihat persoalan tanah tidak hanya dari aspek legalitas, tetapi mencakup keadilan dalam penguasaan dan pemanfaatan tanah, keberlanjutan penghidupan petani, perlindungan ruang hidup, serta arah pembangunan Indonesia ke depan. Melalui keterlibatan dalam ruang-ruang diskusi publik, Sintesa terus mendorong penguatan perspektif masyarakat dan petani dalam pembahasan mengenai agraria, pembangunan, dan masa depan pedesaan Indonesia.